Hanya Orang yang Cacat Iman dan Cacat Syariat yang Suka Tan Malaka

MUSTANIR.net – Tan Malaka sering banget menggunakan Marxisme sebagai framework untuk mengevaluasi Islam. Ini suatu arogansi; humanisme kok mau mengevaluasi religi? Kalau bukan seorang Marxist tulen, mana mungkin Tan Malaka melakukan hal itu?

Dalam tulisannya yang berjudul “Pasal 7. Bayangan Masyarakat” (hal. 134) dalam buku Madilog, Tan Malaka menjelaskan manifestasi kultural suatu masyarakat yang disebutnya dengan frasa “bayangan masyarakat”. Dalam terma Marxist, Tan Malaka pada hakikatnya sedang menjelaskan “superstructure/base”, sebagaimana yang dijelaskan Karl Marx berikut:

“Dalam produksi sosial keberadaan mereka, manusia tak terhindarkan memasuki hubungan-hubungan tertentu, yang bersifat independen dari kehendak mereka, yaitu hubungan-hubungan produksi yang sesuai dengan tahap tertentu dalam perkembangan kekuatan produksi material mereka. Keseluruhan hubungan produksi ini membentuk struktur ekonomi masyarakat, fondasi nyata, di atasnya muncul superstruktur hukum dan politik serta bentuk-bentuk kesadaran sosial tertentu.” — Karl Marx, Preface to a Contribution to the Critique of Political Economy (1859)

“Bayangan masyarakat” ialah superstruktur yang berada di atas basis ekonomi. Jika basis ekonomi adalah feodal, maka superstruktur akan mendukung hak istimewa bangsawan dan sistem kekuasaan kerajaan. Jika basis ekonomi kapitalis, superstruktur mendukung kepemilikan pribadi atas alat produksi, hukum pasar, dan ideologi liberal.

Teori “bayangan masyarakat” atau “superstructure” ini digunakan Tan Malaka buat menilai ajaran Islam mengenai surga (al-jannah, salah satu rukun iman, yakni “percaya pada akhirat”), kenikmatan di surga (“air di surga”, bidadari di surga”), dan ajaran syariat untuk menutup aurat perempuan. Kata si Tan Malaka:

“Kalau tuan seorang Islam, bukanlah surga tuan juga bayangan dari masyarakat dan Bumi Arab? Bukankah Air Zamzam dalam surga itu, barang yang luar biasa di gurun pasir Benua Arab? Bukankah bidadari yang matanya seperti mata merpati itu idaman Arab, dan Badui yang terutama. Sadarlah tuan dan jangan marah dan dogmatis!

Pakailah pikiran nuchter, jernih! Lihatlah sekitar tuan saja! Bukankah ‘feramfuan’ suatu barang yang nomer wahid buat tuan Said, turunan Nabi Muhammad ﷺ? Begitu penting ini barang, sampai ketika dua kali saya lalui dan singgah di Mesir, kaum Ibu masih disimpan baik-baik di antara 4 batu tembok, tak boleh keluar. Yang keluar mesti dikudungi betul-betul, tak boleh manusia lain, orang Islam pun melihatnya.” (hal. 137)

Dalam kacamata Tan Malaka yang Marxist-komunist tulen, ajaran rukun iman tentang sorga (al-jannah) dan kenikmatan sorgawi dan kewajiban menutup aurat bagi perempuan adalah refleksi dari idaman idaman orang Arab. Cerminan hasrat orang Arab akan taman yang subur dan indah (tanah yang didamba damba orang Arab yang hidup di gurun pasir tandus), hasrat orang Arab akan air yang terus mengalir, dan hasrat seksual orang Arab akan perempuan. Ia bukan ajaran dari Allah, tapi dari hasrat orang Arab akan harta, air, dan perempuan.

Betul betul pikiran yang khas Marxist-komunist tulen!

Kalau udah tahu gini, emang cuma orang yang cacat rukun iman dan cacat syariat yang masih percaya omongannya Tan Malaka! Emang cuma orang penganut Marxisme-Komunisme yang masih kagum sama Tan Malaka! []

Sumber: Ferry Hidayat

About Author

Categories