Harta Terbaik Seorang Muslim

Harta Terbaik Seorang Muslim

Bolehkah seorang Muslim kaya? Tentu boleh, tidak ada satu pun nash al-Quran dan as-Sunnah yang mengharamkan seorang Muslim untuk menjadi kaya. Yang haram adalah menjadi kaya dengan cara-cara yang dilarang oleh syariah seperti kaya karena riba, kaya karena korupsi, kaya karena bisnis narkoba, kaya karena melacur, kaya karena bisnis yang menyalahi akad-akad syar’i, dsb.

Karena itu selama halal dan diperoleh dari cara-cara yang halal, menjadi kaya adalah halal. Di antara para Sahabat pun banyak yang kaya-raya seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dll. Bahkan sebagaimana dinyatakan oleh Amr bin al-‘Ash, “Sebaik-baiknya harta adalah harta milik orang yang salih.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).

Mengapa? Karena harta orang shalih pasti halal dan diperoleh dari cara-cara yang halal. Itulah mengapa, Ustman bin Affan, saat dijamu di rumah Abdurrahman bin Auf dalam sebuah kunjungan ke rumahnya, makan dengan begitu lahapnya. Saat ditanya mengapa makan begitu lahap di rumah Abdurrahman bin Auf? Beliau menjawab, “Karena saya yakin harta Abdurahman bin Auf halal.”

Karena itu wajar jika Abu Shalih as-Saadi berkata, “Aku mendapati sebaik-baik dunia dan akhirat ada dalam kekayaan sekaligus ketakwaan, sementara seburuk-buruknya dunia dan akhirat ada dalam kefakiran sekaligus kefasikan.” (Ibn Abdi ad-Dunya’, Islâh al-Mâl, 1/88).

Namun demikian, seorang yang fakir yang bertakwa tentu masih lebih baik daripada seorang kaya yang fasik. WalLâhu a’lam.

Categories