MUSTANIR.net – Banyak umat Islam hari ini berdalih istikharah mencari petunjuk untuk menghindari mudharat yang lebih besar, dengan dalih agar terhindar dari asumsi adanya mudharat yang lebih besar lagi. Padahal petunjuk itu telah terang, telah jelas, tapi masih saja ada yang mencoba menghindari petunjuk, mencari jalan lain berdalih istikharah.

Dalam konteks pemilu, misalnya. Banyak amal umat Islam yang akhirnya terjebak pada aktivitas maksiat, hanya dengan dalih untuk menghindari mudharat yang lebih besar lagi.

Padahal memilih pemimpin tidak sekadar akad penyerahan kekuasaan, tetapi akad kekuasaan yang diberikan oleh umat kepada pemimpin untuk menerapkan kitabullah dan sunnah Nabi-Nya. Jadi, justru substansinya bukan orang, tetapi apa yang diterapkan dalam kepemimpinan itu.

Ketika orang minta menjadi pemimpin tetapi tidak menerapkan Islam, bahkan menerapkan kedaulatan rakyat yang bertentangan dengan Islam, maka sebenarnya memberikan kekuasaan kepada orang tersebut, sama saja menjerumuskannya. Karena di akhirat kelak, jabatan itu akan menjadi sesalan. Dan kita dimintai pertanggungjawaban atas andil kekuasaan yang diberikan.

Jadi, sebenarnya harusnya umat Islam berpikirnya simple. Tidak perlu menggunakan dalih mencari yang lebih sedikit mudharatnya, atau telah beristikarah, dll. Sederhana saja, jika pemimpin itu komitmen akan menerapkan syariat Islam maka layak dipilih untuk diberikan kekuasaan. Kalau tidak, ya tidak perlu dipilih. Karena hakikat kekuasaan itu untuk menerapkan syariat Islam.

Bagaimana kalau umat Islam tidak memilih, kekuasaan akan dikuasai orang kafir, kezaliman akan makin merajalela, dan seterusnya?

Jawabnya sederhana. Selama ini umat Islam memilih juga tetap dizalimi. Yang berkuasa juga tetap sistem kufur (sekuler), meskipun yang berkuasa orang Islam. Kezaliman juga selalu terjadi dari rezim satu ke rezim berikutnya.

Umat Islam juga terbiasa menghadapi kezaliman, presiden mana pun sudah biasa berbuat zalim. Umat Islam sepanjang komitmen dan teguh pada syariat, insya Allah akan selalu terjaga.

Sebaliknya, sampai kapan umat Islam akan sampai pada ketaatan paripurna dengan diterapkannya syariat Islam jika sistemnya masih demokrasi sekuler? Bukankah terlibat dalam sistem demokrasi sekuler sama saja melanggengkan atau melestarikan sistem batil tersebut? []

Sumber: Ahmad Khozinudin

About Author

Categories