Penyesatan Politik dalam Permainan Kata-kata

MUSTANIR.net – Dalam sebuah ungkapan bahasa Arab disebutkan ‘inn fi ba’dhil kalam la sihrun’, sesungguhnya dalam sebagian kata kata itu ada sihir. Tepat apa yang dikandung di dalamnya. Kata-kata kadang bisa membuat orang marah, sedih, semangat, terlena bahkan tertipu.

Permainan kata inilah yang sedang dimainkan oleh setiap penguasa saat ini, sehingga banyak rakyat terkecoh dengan pidato dan orasi yang memukau. Tidak hanya sekali dua kali dia menggunakan kalimat simpatik yang menarik hati rakyat, semisal “Jangan kau menjadi antek-antek asing”, “Saya akan timbul tenggelam bersama rakyat”, “Akan saya kejar koruptor hingga ke antariksa”, “Pemerintahan ini bekerja menyejahterakan rakyat”, dan ungkapan lain sejenis.

Akibatnya rakyat terpukau di awalnya tetapi merana setelah menyadari kenyataan yang ada. Psikologi massa menjadi alat baru untuk kembali mengelabui dengan kata-kata indah.

Maka benarlah ungkapan Hitler, “Kebohongan yang diulang seribu kali maka akan menjadi kebenaran.” Hitler telah membuktikan ucapannya, jutaan orang tertipu oleh propagandanya hingga dia menjadi pemimpin paling dikator sepanjang masa.

Maka sejatinya politik adalah sebuah perang kata-kata untuk meraih simpati massa. Di sinilah letak urgensitas pengungkapan penyesatan rakyat dengan ide-ide busuk terbungkus ungkapan mulia.

Selayaknya perang ide maka harus ada ide baru yang shahih untuk menjatuhkan ide lama. Perlunya edukasi berkelanjutan kepada rakyat agar tidak mudah ditipu oleh politisi palsu atas nama rakyat.

Memahami hakikat ideologi dalam sebuah perang pemikiran adalah perkara mutlak, tidak bisa ditawar. Jika tidak dia akan jatuh ke dalam jebakan kata-kata manis yang menyesatkan.

Ideologi adalah ide dasar yang dibangun dari proses berpikir yang shahih dan kemudian dibangun diatasnya sebuah sistem. Ide dasar yang memenuhi syarat untuk disebut sebagai ideologi hanya ada tiga di dunia ini. Yakni kapitalisme, sosialisme, dan Islam.

Kapitalisme adalah ide dasar tentang manusia, alam semesta dan kehidupan yang didasari oleh sekulerisme—pemisahan agama dari kehidipan.

Sementara sosialisme adalah ide dasar tentang manusia alam semesta dan kehidupan yang dibangun atas dasar materialisme bahwa tidak ada pencipta di balik semua itu kecuali materi itu sendiri.

Ada pun Islam dibangun atas dasar aqidah Islam yang menjadikan Allah sebagai al-Khaliq dan al-Mudabbir—pencipta dan pengatur—manusia, alam semesta dan kehidupan.

Permainan kata yang dilontar Prabowo, sebagus dan semanis apa pun selama diungkapkan dalam ruang ideologi sekuler kapitalisme, maka tidak lain hanya sebuah sandiwara untuk menipu rakyat demi memperkaya para kaum kapitalis oligarki.

Rakyat yang sering disebut-sebut tidak lain hanya kamuflase untuk menjadi alibi agar terlepas dari kemarahan. Rakyat yang dimaksud adalah rakyat kelas atas yang dihuni oleh para kapitalis, global maupun lokal.

Tadhlil siyasi atau penyesatan politik adalah praktik yang lumrah dipakai oleh para politisi kapitalisme untuk memperkaya diri dan kelompoknya.

Saatnya umat sadar dan bangkit untuk meninggalkan ide-ide kapitalisme serta beralih kepada Islam. Agar tidak menjadi korban kelicikan mereka. Bergabunglah dengan para pejuang politisi ideologi Islam, in sya Allah selamat di dunia dan di akhirat. Amin. []

Sumber: Muhammad Ayyubi (Direktur Mufakkirun Siyasiyyun Cimmunity)

About Author

Categories