Kejamnya Komunisme Diperingati Satu Hari, Kejamnya Kapitalisme Dialami Setiap Hari Tanpa Disadari

MUSTANIR.net – Setiap tanggal 30 September bangsa ini diarahkan untuk mengenang tragedi yang dikaitkan dengan kekejaman komunisme. Film diputar, pidato resmi digelar, generasi muda diperingatkan agar jangan pernah lengah terhadap bahaya laten. Sejarah seakan berhenti pada satu titik: komunisme adalah musuh yang paling nyata.

Namun ironisnya, dalam kesibukan bangsa memperingati ancaman itu, justru ada musuh lain yang bekerja lebih licik, lebih sistematis, dan lebih kejam—kapitalisme. Berbeda dengan komunisme yang ditolak mentah-mentah, kapitalisme tidak tampak sebagai bahaya. Ia justru dilapisi dengan legitimasi falsafah bangsa, bahkan dipeluk erat sebagai motor pembangunan (1).

Kapitalisme hadir bukan dengan wajah keras, tetapi dengan senyum lembut. Ia datang lewat jargon pertumbuhan, stabilitas, dan kesejahteraan. Ia tampil di layar kaca melalui iklan-iklan yang menjanjikan kebahagiaan, di ruang kelas melalui kurikulum yang menekankan persaingan, dan di mimbar pejabat melalui pidato tentang investasi.

Kejamnya kapitalisme bukan terletak pada darah yang tumpah, melainkan pada perut yang lapar, pada anak putus sekolah, pada pasien yang ditolak rumah sakit karena tak mampu membayar, pada petani yang tergusur demi proyek pembangunan. Semua itu dianggap normal, bahkan dipuji sebagai pengorbanan demi kemajuan bangsa (2).

Kapitalisme lebih licik dibanding komunisme. Komunisme terang-terangan menyatakan permusuhannya terhadap agama, menolak kepemilikan pribadi, dan hendak membentuk masyarakat tanpa kelas. Itu membuatnya mudah dibaca sebagai ancaman.

Sebaliknya, kapitalisme bisa merangkul agama, memanfaatkan simbol-simbol religius untuk kepentingan pasar. Ia bahkan bisa menyatu dengan slogan-slogan kebangsaan, sehingga rakyat tidak merasa sedang dijajah. Yang terjadi justru penghambaan sukarela kepada pasar, pengorbanan tanpa sadar demi segelintir oligarki, dan pembenaran eksploitasi dengan bahasa nasionalisme (3).

Bila komunisme menimbulkan trauma melalui kekerasan fisik, kapitalisme menimbulkan luka batin melalui ketidakadilan struktural. Kesenjangan sosial makin lebar, segelintir elit semakin kaya, sementara mayoritas rakyat dipaksa puas dengan serpihan.

Semua itu dijalankan dengan mekanisme pasar, kebijakan utang, dan regulasi ekonomi yang mengikat bangsa ini pada kepentingan global (4). Kapitalisme ibarat racun yang diteteskan perlahan: ia tidak langsung membunuh, tetapi melemahkan dari hari ke hari hingga masyarakat tak lagi memiliki daya untuk melawan (5).

Peringatan anti-komunisme tiap tahun akhirnya berfungsi ganda: bukan hanya sebagai ingatan sejarah, melainkan juga sebagai pengalih perhatian. Rakyat dipaksa menoleh ke belakang, sementara penindasan kapitalisme berlangsung di depan mata.

Propaganda tentang bahaya laten komunisme berhasil menutupi bahaya nyata kapitalisme. Maka, tragedi sebenarnya bukan hanya sejarah berdarah 1965, melainkan juga penderitaan sehari-hari yang dijalani jutaan rakyat karena harga pangan yang terus naik, pendidikan yang makin mahal, lapangan kerja yang sulit, dan pelayanan publik yang diserahkan pada logika komersialisasi (6).

Lebih berbahaya lagi, kapitalisme membungkus dirinya dengan jubah falsafah bangsa. Di masa Orde Baru, Pancasila diposisikan sebagai ideologi tunggal, tetapi dalam praktiknya justru dijadikan tameng bagi proyek pembangunan kapitalistik.

Pertumbuhan ekonomi dijadikan indikator tunggal keberhasilan, meskipun rakyat kecil tetap menderita. Sila ke lima tentang keadilan sosial hanya tinggal retorika, sementara kenyataan menunjukkan ketidakadilan yang semakin parah. Inilah kejamnya kapitalisme: bukan hanya merampas kesejahteraan, tetapi juga menipu kesadaran (7).

Kapitalisme tidak hanya menjerat melalui kebijakan makro, tetapi juga merasuk dalam gaya hidup sehari-hari. Anak-anak muda dididik untuk percaya bahwa kebahagiaan berarti mampu membeli gawai terbaru, orang tua diyakinkan bahwa kesuksesan berarti memiliki rumah mewah, dan bangsa diyakinkan bahwa kedaulatan berarti mampu menarik investasi asing.

Semua ini adalah produk hegemoni ideologi yang membuat kapitalisme tampak alamiah (8). Padahal ia sama sekali bukan kodrat, melainkan hasil rekayasa yang didesain untuk menguntungkan segelintir pihak di atas penderitaan mayoritas.

Jika komunisme bisa ditumpas oleh operasi militer dan propaganda negara, kapitalisme lebih sulit diusir karena ia bersembunyi di balik kesadaran. Ia menyusup lewat media massa, sistem pendidikan, regulasi hukum, bahkan lewat wacana agama yang sudah dikomodifikasi.

Kapitalisme menjelma bukan hanya sebagai sistem ekonomi, melainkan sebagai mentalitas hidup: mentalitas konsumtif, individualis, dan kompetitif. Inilah yang membuatnya lebih mematikan, karena rakyat menjadi korban sekaligus agen yang memperkuat sistem itu sendiri (9).

Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap sistem yang menindas pada akhirnya akan menemukan lawannya. Komunisme runtuh di banyak negara karena kontradiksi internal dan penolakan rakyat. Kapitalisme pun tidak akan bertahan selamanya, sebab kontradiksi yang diciptakannya semakin tajam: kesenjangan sosial, krisis ekologis, dan kehancuran nilai-nilai kemanusiaan (10).

Persoalannya, apakah umat manusia memiliki alternatif nyata yang bisa mengisi kekosongan ketika kapitalisme runtuh?

Di sinilah Islam menawarkan jawaban. Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem hidup yang komprehensif. Ia menolak ateisme komunisme, tetapi juga mengkritik ketidakadilan kapitalisme. Islam menempatkan manusia bukan sebagai budak pasar atau negara, melainkan sebagai hamba Allah yang wajib mengatur kehidupannya sesuai syariat.

Dalam Islam, ekonomi tidak diserahkan pada mekanisme pasar bebas yang kejam, melainkan diatur agar memenuhi kebutuhan dasar setiap individu, dengan larangan riba, monopoli, dan eksploitasi. Sumber daya alam dikelola untuk kepentingan rakyat, bukan segelintir korporasi. Negara memiliki peran sebagai pelindung, bukan sekadar fasilitator investasi.

Islam juga menegaskan bahwa keadilan sosial bukan sekadar retorika, tetapi prinsip dasar. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf bukan sekadar ibadah individual, melainkan instrumen distribusi kekayaan. Pasar dalam Islam diatur agar bebas dari penipuan, spekulasi, dan riba, sehingga transaksi benar-benar mencerminkan keadilan. Dalam Islam, pembangunan tidak diukur dari pertumbuhan angka-angka ekonomi, melainkan dari terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh rakyat secara merata.

Al-Qur’an secara tegas memperingatkan agar manusia tidak terjebak dalam keserakahan harta: “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang bodoh harta (mereka), yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupanmu, tetapi berilah mereka nafkah darinya dan pakaikanlah mereka, serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik” (QS An-Nisa [4]: 5).

Rasulullah ﷺ juga menegaskan dalam hadits riwayat Tirmidzi: “Tidaklah seseorang itu beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Prinsip ini jelas menolak logika kapitalisme yang menumbuhkan individualisme dan kesenjangan sosial.

Maka, jika komunisme ditolak karena kejam, dan kapitalisme lebih licik karena kejamnya tersembunyi, Islam hadir sebagai jalan tengah yang adil. Islam bukan sekadar ideologi tandingan, tetapi sistem yang menyelamatkan manusia dari jebakan ateisme maupun materialisme.

Islam membebaskan manusia dari penindasan sesama manusia, mengembalikan kedaulatan kepada hukum Allah yang Maha Adil. Inilah solusi sejati bagi bangsa yang telah terlalu lama dipermainkan oleh propaganda anti-komunisme di satu sisi, dan hegemoni kapitalisme di sisi lain.

Kesimpulannya, memperingati kekejaman komunisme penting sebagai bagian dari sejarah, tetapi lebih penting lagi menyadari kekejaman kapitalisme yang kita jalani setiap hari. Selama bangsa ini terus menutup mata terhadap bahaya laten kapitalisme, maka penderitaan akan terus berlanjut dengan wajah pembangunan.

Hanya dengan kembali kepada Islam sebagai sistem hidup yang paripurna, bangsa ini bisa benar-benar terbebas dari penindasan ideologi komunisme maupun kapitalisme. Islamlah yang mampu menghadirkan keadilan sejati, menegakkan kesejahteraan, dan mengembalikan kemerdekaan hakiki umat manusia.

Wallahu a’lam bishawab. []

Sumber: Arman Tri Mursi

Referensi:
(1) David Harvey, A Brief History of Neoliberalism (Oxford University Press, 2005).
(2) Immanuel Wallerstein, The Modern World-System (Academic Press, 1974).
(3) Karl Polanyi, The Great Transformation (Beacon Press, 2001).
(4) Saskia Sassen, Expulsions: Brutality and Complexity in the Global Economy (Harvard University Press, 2014).
(5) Richard Robison, Indonesia: The Rise of Capital (Equinox Publishing, 2009).
(6) George Ritzer, The McDonaldization of Society (SAGE Publications, 2019).
(7) Jeffrey Winters, Oligarchy (Cambridge University Press, 2011).
(8) Benedict Anderson, Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia (Cornell University Press, 1990).
(9) Noam Chomsky, Profit Over People: Neoliberalism and Global Order (Seven Stories Press, 1999).
(10) Vedi R Hadiz, Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia (Stanford University Press, 2010).

About Author

Categories