Sistem Sekuler Gagal Menciptakan Lapangan Kerja Masif

MUSTANIR.net – Dalam Bincang Hangat Muslimah: Masa Depan Ketenagakerjaan Suram? Solusi Tuntas Islam Kafah, Jumat (8-5-2026), pakar ekonomi Islam Nida Saadah, SE, Ak., MEI menyebut dua alasan gagalnya sistem sekularisme kapitalisme menciptakan lapangan kerja masif.

• Pertama, sekuler kapitalisme memisahkan ruh dari aktivitas ekonomi. Akibatnya tujuan utama ekonomi bergeser menjadi maksimalisasi keuntungan (profit oriented) bukan pemenuhan kebutuhan manusia.

• Ke dua, dalam kerangka ini tenaga kerja diposisikan sebagai biaya produksi, bukan subjek yang harus dijamin kesejahteraannya. Negara hanya berperan sebagai regulator minimal, bukan penanggung jawab langsung distribusi kesejahteraan. Ini melahirkan problem struktural bukan sekadar problem teknis.

Kemudian, ia membeberkan mekanisme kapitalisme menghambat penciptaan lapangan kerja.

• Pertama, automasi demi efisiensi. Perusahaan terdorong mengganti manusia dengan mesin untuk menekan biaya. Akibatnya PHK meningkat, pertumbuhan ekonomi tidak sebanding dengan penyerapan tenaga kerja (jobless growth).

• Ke dua, konsentrasi kepemilikan modal. Kekayaan terpusat pada segelintir korporasi menyebabkan akses produksi terbatas bagi masyarakat luas.

• Ke tiga, liberalisasi pasar tenaga kerja dan outsourcing yang berdampak pada fleksibilitas pasar tenaga kerja.

• Ke empat, ketergantungan pada investasi sehingga lapangan kerja bergantung pada investor. Jika investasi turun, pengangguran naik. Negara kehilangan kedaulatan ekonomi.

Pengangguran Struktural

Mekanisme di atas, kata Nida, membuat anak-anak muda tidak punya lapangan kerja. ”Jadi, kalau dibahas tentang pengangguran, itu saya sebut struktural. Sistemnya secara terstruktur memang membuat orang jadi menganggur,” tandasnya.

Ini, ucapnya, terbukti dengan fenomena pengangguran saat ini, yaitu tingginya pengangguran terbuka dan setengah menganggur, lulusan pendidikan tidak terserap, pekerja sektor informal membengkak, banyak pekerjaan bersifat semu, serta gagalnya negara menyediakan pekerjaan layak secara sistemis.

Ia mengkritik peran negara dalam sistem kapitalisme yang tidak mewajibkan negara menyediakan pekerjaan dan mengalihkan tanggung jawab penyediaan lapangan kerja ke pasar tenaga kerja. ”Padahal realitasnya pasar tidak menjamin distribusi kerja. Pasar hanya mengalokasikan tenaga kerja berdasarkan keuntungan. Akibatnya terjadi ketimpangan, pengangguran kronis, kemiskinan struktur,” bebernya.

Jadi, menurutnya, kegagalan sekuler kapitalisme dalam menciptakan lapangan kerja masif bukan karena salah kebijakan semata tetapi karena cacat paradigma serta mekanisme sistemis yang eksploitatif.

Gig Economy

Dalam pandangan Nida, gig economy, yaitu sistem pasar tenaga kerja yang didominasi oleh kontrak jangka pendek, pekerja lepas (freelancer), dan berbasis platform digital (aplikasi/situs web) merupakan solusi semu dari kegagalan sistem sekuler kapitalisme menciptakan lapangan kerja.

Ia beralasan, gig economy menciptakan lapangan kerja, tetapi tanpa jaminan apa pun. ”Tenaga kerja diposisikan sebagai komoditas, buruh —termasuk pekerja gig— hanya dihargai berdasarkan pasar sekuler. Negara berperan minimal, hanya bertindak sebagai regulator, bukan penanggung jawab utama kesejahteraan. Akibatnya muncul outsourcing digital atau gig economy. Jadi gig economy adalah bentuk eksploitasi modern berbasis teknologi,” pungkasnya. []

Sumber: M News

About Author

Categories