Lima Fakta Olimpiade Jadi Ajang Politik

Lima Fakta Olimpiade Jadi Ajang Politik

Mustanir.com – Olimpiade seharusnya mampu melewati politik, tetapi beberapa kasus, olimpiade justru dijadikan ajang politik bagi pemerintah. Dilansir dari Time, berikut lima fakta terkait olimpiade dan politik.

1. Muenchen 1972
Olimpiade di Muenchen menjadi kesempatan bagi demokrasi Jerman Barat memperkenalkan kembali dirinya kepada dunia. Keamanan sengaja diperlemah untuk menghilangkan citra Jerman militer.

Namun pada 5 September, delapan anggota kelompok teroris Black September menyerbu Olympic Village dan menyandera hampir seperempat delegasi Israel. Para teroris berharap pembebasan 234 tahanan politik Palestina, tapi Golda Meir menolak negosiasi.

Pemerintah Jerman Barat gagal dalam upaya penyelamatan yang mengakibatkan kematian enam pelatih Israel, lima atlet Israel dan satu polisi Jerman Barat.

Momok Muenchen masih membayangi pertandingan 44 tahun kemudian. Rio telah mengerahkan pasukan keamanan sebanyak 85 ribu personel. Intelijen AS telah mengirim lebih dari 350 mata-mata ke Brasil untuk meningkatkan keamanan Olimpiade.

2. Moskow 1980 dan Los Angeles 1984
Tragedi Muenchen menunjukkan bagaimana permainan olahraga dapat dibajak oleh sekelompok individu.

Pada Januari 1980, Jimmy Carter memperingatkan jika Soviet menarik pasukannya dari Afghanistan, AS akan memboikot Olimpiade Moskow. Tidak mengherankan, Moskow menolak dan AS akhirnya membujuk 61 negara lain untuk bergabung memboikot Olimpiade.

Kejadian berulang, Soviet memboikot Olimpiade di Los Angeles 1984 meski hanya berhasil membujuk 14 negara. Olimpiade seharusnya melampaui politik, bukan digunakan sebagai alat tawar-menawar politik.

3. Beijing 2008
Ketika Beijing dianugerahi kesempatan menjadi tuan rumah Olimpiade pada 2008, negara itu memiliki PDB sebesar 1,3 triliun dolar AS. Pada 2008, PDB telah melonjak hingga 4,6 triliun dolar AS.

Ribuan orang melakukan protes di London, Paris, San Fransisco, Seoul dan New Delhi. Mereka memprotes terpilihnya Cina sebagai tuan rumah mengingat pelanggaran hak asasi manusi terhadap Tibet. Namun pada saat api Olimpiade mencapai Beijing, politik telah berperan dan membuat negara dunia berkumpul memulai Olimpiade Musim Panas ke-29.

Keberhasilan pertandingan ini membuat Cina naik ke panggung global dan membuat negara itu kembali menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022.

4. Sochi 2014
Saat Rusia memutuskan menggelar Olimpiade Musim Dingin di tempat berbeda, keluar dari resor musim panas, hal itu membuat biaya yang mencengangkan, 50 miliar dolar AS. Angka itu lebih mahal dari setiap ajang gabungan pertandingan musim dingin lainnya.

Sebagian besar yang menyebabkan biaya tinggi akibat dari korupsi endemik di Rusia. Negara itu berada di peringkat 136 dalam daftar negara-negara paling tidak korup di dunia pada 2014.

Sebuah jalan tunggal yang menghubungkan pantai Sochi ke resor ski Krasnaya Polyana membutuhkan biaya 9,4 triliun dolar AS, lebih dari semua biaya Olimpiade Vancouver 2010. Pemimpin oposisi Boris Nemstov kemudian dibunuh di depan Kremlin, mengklaim bahwa hampir 30 miliar dolar AS dikorupsi dan untuk suap.

5. Rio de Janeiro 2016
Seperti Cina, Brasil berharap membuat Olimpiade sebagai sebuah pernyataan. Sayangnya, ekonomi goyah, kesus korupsi yang sedang berlangsung melibatkan perusahaan minyak negara Petrobas dan kasus yang menyeret Presiden Dilma Roussef membuatnya tidak mungkin.

Meski banyak kekacauan dalam negeri, Rio menjadi tuan rumah yang baik bagi para tamu.

Setiap beberapa tahun, dunia berkumpul dan bersaing di Olimpiade, yang lebih penting, atlet dunia dan penggemar dari hampir setiap bangsa berkumpul untuk bertemu satu sama lain. Semua orang tahu, pertandingan besar sekelas Olimpiade rentan dengan korupsi, biaya tinggi dan infrastruktur yang dipertanyakan nilai jangka panjangnya.

Tapi di era nasionalisme dan meningkatnya xenofobia di seluruh dunia, semangat Olimpiade adalah nyata dan sangat kuat. Dalam hal itu, Rio telah membuktikan. (rol/adj)

Categories