Media Menabur Angin dan Menuai Badai

Media Menabur Angin dan Menuai Badai

oleh Salman Abu Syamil

Pagi kemarin hastag #BoikotMetroTV bisa jadi malapetaka bagi MetroTV karena menjadi trending topik di social media. Apalagi ada cuitan yang disinyalir dari produser MetroTV marah dan mengumpat publik akibat gelombang hastag #BoikotMetroTV . Bukan tanpa alasan hastag #BoikotMetroTV menjadi trending topic, namun akibat dinilai publik sering menebar angin yang mendiskreditkan Islam dan ummatnya, dan kini MetroTV pun menuai badai kemarahan dan pemboikotan publik. Mengapa?

Departemen Penerangan era Order Baru berperan sebagai barrier besar bagi media massa saat itu. Ancaman pembredelan oleh rezim menjadi momok bagi media massa. Pasca reformasi 1998, angin segar bagi media massa untuk mengumbar berita dan memframing opini rakyat. Media massa yang ditopang pemodal besar sajalah yang menguasai informasi dan mendikte opini.

Lebih ekstrim lagi media massa pemodal besar mencampakkan prinsip “Cover Both Side”, memungut prinsip “Bad News is a Good News”. Oleh karena hanya Islam yang dinilai menjadi common enemy bagi para pemodal besar, maka bad news tentang Islam akan menjadi santapan lezat para kapitalis untuk mencuci otak publik melalui corong mereka di media massa. Ulah media massa seperti inilah menjadi pemicu konflik sosial horisontal. Media massa seperti inilah yang nyata-nyata menjadi ancaman NKRI.

Memang lebih dari 1 dekade, media massa besar di Indonesia dikendalikan penuh para pemodal besar, sehingga media massa harus sesuai dengan kepentingan pemodal besar dan ideologi kapitalisme-liberal. Sedangkan ancaman terbesar ideologi kapitalisme-liberal adalah Ideologi Islam, pasca berakhirnya perang dingin Blok Barat (NATO) dengan Blok Timur (Pakta Warsawa). Fakta ini sebagaimana prediksi Samuel Huntington dalam tesisnya Clash Civilization.

#AksiBelaIslam menjadi titik awal kesadaran ummat Islam akan kondisinya saat ini yang bertubi-tubi menjadi sansak empuk media massa kapitalis-liberal. Hastag #BoikotMetroTV gambaran nyata ummat Islam dan lainnya memberi pelajaran dan hukuman kepada media massa yang sering menyudutkan Islam, Ummat, dan membela penista agama. Umat harus tetap kritis, cerdas dan waspada dengan pemberitaan yang mendiskreditkan Islam sebagaimana Al-Quran ingatkan :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian. [al-Hujurât/49:6].

Langkah selanjutnya, dalam jangka pendek Ummat Islam memiliki kekuatan untuk mendesak pemerintah agar menutup media massa kapitalis-liberal yang mendiskreditkan Islam. Dalam jangka panjang, Ummat Islam pasca #AksiBelaIslam3 segera menerapkan #SyariahIslam sebagi satu-satunya solusi pemersatu ummat dan penjaga perdamaian dunia.

Categories