Memposisikan Perbedaan Pendapat di Dalam Islam (Ikhtilaf)

Memposisikan Perbedaan Pendapat di Dalam Islam (Ikhtilaf)

Pengertian ikhtilâf.

Secara bahasa makna ikhtilâf adalah bervariasi dalam pendapat dan berbeda dalam menyampaikan (pendapat). Di dalam al-Quran banyak sekali kata kerja dari ikhtilâf (Lihat: QS Maryam [19]: 37; an-Nahl [16]: 124; asy-Syura [42]: 10).

Ringkasnya, kata ikhtilâf lebih sering menunjuk pada mawdhû’ yang tidak qath’i, dan lebih sering merupakan pengantar dialog atau diskusi. Ibn Mas’ud ra. pernah berbeda pendapat dengan Amirul Mukminin Ustman ibn Affan ra. tentang menyempurnakan shalat ketika pergi untuk haji. Namun, mereka berdua tidak berselisih. Bahkan Ibn Mas’ud menyempurnakan shalat bersama dengan Ustman seraya berkata, “Berselisih (khilâf) itu buruk.”

Masih tentang ikhtilâf, Al-Hafidz Ibnu Qayyim menegaskan, “Terjadinya ikhtilâf antarmanusia adalah suatu hal yang sangat wajar terjadi bahkan merupakan keniscayaan karena beragamnya tujuan, pemahaman dan kekuatan pemahaman. Namun yang tercela adalah kedengkian serta permusuhan satu atas sebagian yang lain.”

Ikhtilâf berbeda dengan kata khilâf. Khilâf merupakan isim masdar dari fi’il madhi khâlafa artinya melawan. Dalam kamus Mu’jam Al-Wasîth dinyatakan: sesuatu yang berlawanan dikatakan berbeda satu sama lain.

Al-Hafidz al-Jurjani menyatakan, “Khilâf itu adalah perselisihan yang berlangsung di antara dua pihak yang bertentangan untuk merealisasikan yang haq atau membatilkan yang batil.”

Dalam al-Quran antara lain:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ

Hendaknya kamu hati-hati terhadap mereka yang menyalahi perintahnya (QS an-Nur [24]: 63).

Kata khilâf berbeda dengan ikhtilâf. Ikhtilâf lazimnya pada hal-hal yang sifatnya zhanni. Khilaf juga untuk hal-hal yang sifatnya qath’i. Lazimnya kata ikhtilâf obyeknya adalah pemikiran, sedangkan khilâfobyeknya adalah seseorang. Dengan asumsi ini, penggunaan kata ikhtilâf lebih lazim digunakan dibanding kata khilâf. Ikhtilaf biasanya merupakan entry point untuk saling memahami dan saling menyempurnakan. Para ulama biasa juga menggunakan dua kata tersebut, dan sering dengan “madlûl” yang kurang lebih sama. Namun, lazimnya kata ikhtilâf untuk hal-hal yang terpuji, sedangkan khilâfuntuk hal-hal yang tercela.

Dengan diskripsi ringkas di atas kita menjadi paham bahwa kalau kita bicara ikhtilâf, selalu terkait dengan dua hal: (1) sesuatu yang tidak qath’i atau terkait dengan hal-hal yang zhanni; (2) pendapat atau pemikiran.

Memposisikan ikhtilâf dalam Islam.

Secara faktual, ikhtilâf merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tabiat manusia. Ikhtilâf terjadi seiring dengan berbedanya kemampuan dan kapasitas berpikir, fisik, intelektualitas serta kebiasaan maupun bahasa. Kadang apa yang dipandang oleh seorang sebagai maslahat, ternyata bagi yang lain mafsadat, dan sebaliknya. Apa yang disukai oleh seseorang, kadang justru dibenci oleh yang lain, dan sebaliknya.

Karena itu, keberadaan syariah Allah merupakan suatu keniscayaan untuk merealisasikan kebaikan yang hakiki untuk mereka pada setiap masa, menjauhkan keburukan atau benturan pendapat serta perbedaan pendapat yang menimbulkan perselisihan dan perpecahan.

Selain itu, hukum syariah yang datang di dalam al-Quran dan as-Sunnah di dalamnya banyak masalah yang masuk kategori “mengandung banyak arti”, baik dari sisi bahasa maupun dari sisi syariah. Untuk hal-hal yang semacam ini wajar apabila manusia berbeda dalam memahaminya. Bahkan perbedaan pemahaman ini bisa sampai batas terjadi variasi dan perbedaan untuk makna yang membutuhkan penjelasan.

Kalau kita memperhatikan ikhtilâf yang terjadi di antara para Sahabat dan Tâbi’în sesungguhnya tidak menyentuh inti agama (usûl ad-dîn). Ikhtilâf tidak terjadi pada keesaan Allah, bahwa al-Quran itu wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw., yang merupakan mukizat beliau. Tidak pula terkait dengan pokok-pokok kewajiban seperti shalat lima waktu, haji, zakat dan puasa. Dengan kata lain,ikhtilâf tidak terjadi pada salah satu rukun Islam, tidak pula terkait dengan hal yang termasuk kategori “ulima min ad-dîn bi adh-dharûrah”, seperti keharaman khamr, babi, makan bangkai, kaidah umum tentang waris, dll. Dengan demikian, ikhtilâf itu tidak menyentuh rukun-rukun agama dan juga tidak menyentuh hal-hal yang masuk hal-hal yang pokok yang sifatnya umum.

Macam-Macam Ikhtilaf

Secara umum Syaikh Dr. Ahmad Syuwaiki mengklasifikasikan ikhtilaf dalam dua kategori besar. Pertama: ikhtilaf yang terpuji. Ikhtilaf ini terkait dengan masalah-masalah furû’ dalam agama yang dalilnya zhanni seperti yang telah menjadi Ijmak Sahabat, ikhtilaf yang terjadi di antara mereka dan ikhtilaf yang terjadi di antara para ulama salaf. Kedua: ikhtilaf yang tercela. Ikhtilaf terjadi dalam masalah ushuluddin dan pada masalah-masalah yang qath’i dalam masalah-masalah furû’ dalam Islam serta hal-hal yang sudah dijelaskan dengan tegas dalam nash, seperti ‘ikhtilaf’ orang-orang kafir dan perpecahan mereka dalam masalah agama.

Terkait dengan klasifikasi ikhtilaf ini Imam Asy-Syafii menegaskan, “Ikhtilaf ada dua bentuk. Salah satunya haram. Saya tidak berkata yang seperti itu untuk yang lain. Setiap hal yang hujjah-nya telah ditegakkan oleh Allah dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Nabi-Nya secara tegas (manshûsh) lagi jelas tidak halal ikhtilaf di dalamnya bagi mereka yang mengetahuinya..Adapun yang tidak seperti itu memungkinkan ada takwil dan dipahami berdasarkan qiyas. Orang yang melakukan takwil atau qiyas pada makna yang terkandung pada hadis atau qiyas meski mungkin berbeda dengan yang lain…”

Imam a-Haramain juga berkata, “Tidak boleh dikatakan bahwa setiap mujtahid dalam masalah ushul yang merupakan ilmu kalam atau dalam masalah akidah itu mushib (benar).”

Imam Ibn Abdil Bar menegaskan, “Para ulama salaf—rahimahumullâh—melarang untuk berdebat tentang Allah Jalla Tsana’uhu, tentang sifatnya dan nama-nama-Nya. Adapun dalam masalah fikih mereka sepakat bahwa di dalamnya (boleh) berdebat serta diskusi.”

Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi berkata, bahwa sesungguhnya yang furû’ tidak terdapat dalil qath’i di dalamnya. Adapun untuk yang ushûl (pokok) terdapat dalil yang qath’i. Karena itu, tidak boleh menjadikan setiap mujtahid di dalam masalah ushûl sebagi benar (mushib). Namun, untuk masalah cabang boleh syariah menjawab dengan dua hukum yang saling bertentangan. Karena itu, dalam masalah furû’ yang dalilnya zhanni boleh menilai seorang mujtahid sebagai yang benar (mushib). Berbeda dengan ushûl (pokok). Dalam masalah ushûl tidak boleh syariah memberikan dua hukum yang bertentangan. Karena itu, tidak boleh pula menjadikan setiap mujtahid di dalamnya sebagai yang benar.

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai (QS Ali Imran [3]: 103).

Menurut Imam al-Qurthubi ayat tersebut bukanlah dalil pengharaman ikhtilaf dalam masalah cabang karena sesungguhnya itu bukanlah ikhtilaf. Sebab, pengertian ikhtilaf itu adalah hal-hal yang menghalangi islâh dan berkumpul. Adapun terkait dengan hukum yang sifatnya ijtihadi maka ikhtilaf di dalamnya merupakan sebab dieksposnya kewajiban-kwajiban serta intisari makna syariah. Para Sahabat sering berikhtilaf dalam hukum dari banyak peristiwa. Namun, pada saat yang sama mereka saling mengasihi. Rasulullah saw. bersabda, “Ikhtilaf diantara umatku adalah rahmat.”

Ikhtilaf yang dilarang oleh Allah adalah ikhtilaf yang merupakan sebab kerusakan.

Alhasil, ikhtilaf itu ada dua: yang terpuji dan yang tercela. Ikhtilaf yang terpuji berlaku dalam masalah-masalah furû’ yang dalilnya zhanni. Adalah masalah ushul yang dalilnya qath’i atau masalah furû’ yangqath’i tidak boleh ada ihktilaf. Ikhtilaf dalam hal yang seperti ini tercela.

Bagi seorang Muslim mengadopsi satu hukum syariah untuk satu amal adalah suatu keniscayaan.

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan baik individu, masyarakat maupun bernegara. Allah menegaskan dalam firman-Nya:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya dibandingkan dengan Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Tentang ayat ini al-Hafidz Asy-Syaukani menegaskan,9 Untuk mereka yang masuk kategori ahlul yaqin, tidak ada yang lebih baik daripada hukum Allah. Namun, tidak demikian bagi orang yang bodoh dan pemuja hawa nafsu.

Sebagaimana penjelasan di atas, bahwa hukum syariah yang datang di dalam al-Quran dan as-Sunnah itu, banyak persoalan yang di dalamnya mengandung beberapa makna ditinjau dari sisi bahasa maupun syariah. Karenanya, wajar jika terjadi ikhtilaf di antara kaum Muslim. Namun, ini hanya pada tataran pemikiran atau konsep.

Adapun pada tataran implementasi (amal), justru menjadi keharusan dan tidak ada alternatif lain bagi seorang Muslim untuk mengadopsi (tabanni) satu hukum ketika dia harus melakukan suatu aktivitas. Sebab, seorang Muslim wajib terikat dengan hukum Allah dalam seluruh aktivitas yang di lakukan. Hukum Allah atas satu masalah bagi seorang Muslim adalah satu, tidak lebih. Karenanya, setiap Muslim harus menentukan satu hukum atas suatu masalah dan kemudian melaksanakannya. Karena itu, seorang Muslim wajib mengadopsi hukum syariah tertentu ketika melakukan aktivitas, baik ia mujtahid maupun muqallid. Wallahu a’lam.

SUMBER

Categories