Mendudukkan Polemik Al Maidah 51

Mendudukkan Polemik Al Maidah 51

Oleh: Anto Apriyanto, M.E.I.
(Dosen Ekonomi Islam Universitas Muhammadiyah Tangerang)
– يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian); sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di anta­ra kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah: 51)
Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya yang mu’min mengangkat orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani sebagai wali (pemimpin sentral), karena mereka adalah musuh-musuh Islam dan para penganutnya (muslim). Dalam Tafsir Ibn Katsir bahkan sang Mufassir menambahkan kalimat “Semoga Allah melaknat mereka”. (Lihat uraian tafsir mengenai ayat-ayat akhir Surat Al-Fatihah. Ibn Katsir menafsirkan Al-Maghdhub sebagai orang-orang yang telah rusak kehendaknya; mereka mengetahui perkara kebenaran, tetapi menyimpang darinya. Kemudian Adh-Dhaalliin sebagai orang yang sesat; mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu agama, akhirnya mereka bergelimang dalam kesesatan, tanpa mendapatkan hidayah kepada jalan yang haq (benar). Pembicaraan dalam ayat ini dikuatkan dengan huruf  laa untuk menunjukkan bahwa ada dua jalan yang kedua-duanya rusak, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi dan oleh orang-orang Nasrani. Singkatnya, Al-Maghdhub adalah Yahudi dan Adh-Dhaalliin adalah Nasrani.)
Ibn Abu Hatim mengatakan, telah diceritakan secara berantai dari Kasir bin Syihab, dari Muhammad (yakni Ibn Sa’id bin Sabiq), dari Amr bin Abu Qais, dari Sammak bin Harb, dari Iyad, bahwa Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab pernah memerintahkan Abu Musa Al-Asy’ari untuk melaporkan kepadanya tentang semua yang diambil dan yang diberikannya (yakni pemasukan dan pengeluarannya, maksudnya Laporan Keuangan Negara pada Baitul Maal) dalam suatu catatan lengkap. Dan tersebutlah bahwa yang menjadi sekretaris Abu Musa saat itu adalah seorang Nasrani. Kemudian hal tersebut dilaporkan kepada Khalifah Umar r.a. Maka Khalifah Umar merasa heran akan hal tersebut, lalu ia berkata, “Sesungguhnya orang ini benar-benar pandai, apakah kamu dapat membacakan untuk kami sebuah surat di dalam masjid yang datang dari negeri Syam?” Abu Musa Al-Asy’ari menjawab, “Dia tidak dapat melakukannya.” Khalifah Umar bertanya, “Apakah dia sedang mempunyai janabah (tidak suci)?” Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Tidak, tetapi dia adalah seorang Nasrani.” Maka Khalifah Umar membentak Iyad dan memukul pahanya, lalu berkata, “Pecatlah dia! (orang Nasrani tersebut)” Selanjutnya Khalifah Umar membacakan firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian).” (Al-Maidah: 51).
Dalam riwayat lain Ibn Abu Hatim mengatakan, telah diceritakan secara berurutan dari Muhammad bin Hasan bin Muhammad bin Sabah, dari Usman bin Umar, dari Ibn Aun, dari Muhammad bin Sirin, bahwa Abdullah bin Atabah pernah berkata, “Hendaklah seseorang di antara kalian memelihara dirinya, jangan sampai menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani, sedangkan dia tidak menyadarinya.” Menurut Muhammad bin Sirin, yang dimaksud oleh sahabat nabi tersebut adalah firman Allah SWT yang mengatakan:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian).” (Al-Maidah : 51).
Jika dirasa penafsiran ulama tafsir terdahulu kaliber Ibn Katsir tidak relevan dengan konteks keIndonesiaan kini, mari buka tafsir kearifan lokal tanah air dari seorang ulama kharismatik Indonesia. Buya Hamka dalam karya besarnya  Tafsir Al-Azhar mengawali penjelasan tentang QS. Al-Maidah: 51 dengan kata-kata yang tegas: “Untuk memperteguh disiplin, menyisihkan mana kawan mana lawan, maka kepada orang yang beriman diperingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin.” (pangkal ayat 51).
Jika dicermati seksama, di awal ayat ini Allah SWT menggunakan kalimat seruan khusus (yaa ayyuhalladziina aamaanuu), bukan seruan umum (yaa ayyuhannaas). Secara imani dapat dipastikan yang akan tunduk patuh pada perintah tersebut adalah hanya mu’min (muslim yang beriman). Ketika sampai ayat ini kepada orang-orang beriman maka yang dilakukan adalah sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat) karena keimanannya. Jadi jika ada yang mengaku muslim menghadapi firman Allah tersebut ia menolak, bahkan dengan sengaja ia menjadi pendukung non-muslim yang Allah larang menjadi pemimpin kenegaraan, maka patut dipertanyakan apakah termasuk orang beriman? Bukankah orang beriman meyakini dengan pasti tanpa keraguan terdapat rukun iman yang di antaranya adalah iman kepada Allah dan iman kepada kitab-Nya?
Dan dalam hal ini, Islam menegaskan Al-Quranul Karim adalah kitab suci pamungkas yang menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya yang wajib diimani. Lalu mengapa tidak melaksanakan perintah Surat Al-Maidah: 51 kalau merasa mu’min? Kecuali memang merasa bukan orang beriman.
Selanjutnya Buya Hamka menguatkan dalam tafsirnya:
“Disini jelas dalam kata seruan pertama, bahwa bagi orang yang beriman sudah ada satu konsekuensi sendiri karena imannya. Kalau dia mengaku beriman pemimpin atau menyerahkan pimpinannya kepada Yahudi atau Nasrani. Atau menyerahkan kepada mereka rahasia yang tidak patut mereka ketahui, sebab dengan demikian bukanlah penyelesaian yang akan didapat, melainkan bertambah kusut…”
Kemudian Allah memberitahukan bahwa sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Buya Hamka menjelaskan:
“… Sebagian mereka adalah pemimpin-pemimpin dari yang sebagian. Maksud ayat ini dalam dan jauh. Artinya jika pun orang Yahudi dan Nasrani itu yang kamu hubungi atau kamu angkat menjadi pemimpinmu, meskipun beberapa orang saja, ingatlah kamu, bahwa sebagian yang berdekat dengan kamu itu akan menghubungi kawannya yang lain, yang tidak kelihatan menonjol ke muka. Sehingga yang mereka kerjakan diatas itu pada hakikatnya ialah tidak turut dengan kamu. Kadang-kadang lebih dahsyat lagi dari itu. Dalam kepercayaan sangatlah bertentangan di antara Yahudi dan Nasrani; Yahudi menuduh Maryam berzina dan Isa al-Masih anak Tuhan, dan juga Allah sendiri yang menjelma jadi insan. Sejak masa Isa al-Masih hidup, orang Yahudi memusuhi Nasrani, dan kalau Nasrani telah kuat kedudukannya, merekapun membalaskan permusuhan itu pula dengan kejam sebagaimana selalu tersebut dalam riwayat lama dan riwayat zaman baru. Tetapi apabila mereka hendak menghadapi Islam, yang keduanya sangat membencinya, maka yang setengah mereka akan memimpin setengah yang lain. Artinya di dalam menghadapi Islam, mereka tidak keberatan bekerja sama…”
Dilanjutkan dengan Allah mengancam orang muslim yang melakukan hal itu (mendukung pemimpin dari non-muslim) melalui firman-Nya:
– وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُم
 
“…Siapa saja di antara kalian (muslim) mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya kalian termasuk golongan mereka…”  (Al-Maidah: 51).
Masih dalam Tafsir Al-Azhar, profesor dan tokoh besar Muhammadiyah di masa Orde Lama dan Orde Baru itu menegaskan:
“…Yaitu kalau orang telah menjadikan mereka itu jadi pemimpin, maka dia telah termasuk golongan orang yang diangkatnya jadi pemimpin itu…”
Menarik untuk disimak, uraian lanjutan Buya Hamka mengenai muslim yang menjadi kaki tangan pemimpin bukan Islam sebagai orang-orang yang amat sulit diberi nasihat bahkan cenderung menolak kebenaran hingga menyerang agamanya (Islam) sendiri. Ketua Umum MUI pertama tersebut menjelaskan:
“…Bertahun-tahun lamanya kita yang memperjuangkan Islam musti memberikan kepada mereka keterangan agama sepuluh kali lebih sulit daripada memberi keterangan kepada seorang Amerika atau Eropa yang ingin memeluk Islam. Sebab rasa cemooh kepada agama, sinis, acuh tak acuh telah memenuhi sikapnya; mereka itu menamai dirinya Kaum Intelek yang meminta keterangan agama yang masuk akal. Padahal akalnya itu telah dicekok oleh didikan asing, sehingga kebenaran tidak bisa masuk lagi. Kadang-kadang terhadap orang seperti ini, seorang Muslim yang taat harus bersikap seperti “menatang minyak penuh”, sebab batinnya pantang tersinggung. Bukan akal mereka yang benar cerdas atau rasionalis melainkan jiwa mereka yang telah berubah, sehingga segala yang bagus adalah pada bangsa yang menjajah mereka, dan segala yang buruk adalah pada pemeluk agamanya sendiri. Orang semacam inilah yang disebutkan oleh Ibn Khaldun di dalam Muqaddimah tarikhnya, (Pasal ke II, Kitab Pertama, No. 23). Kata beliau, “Orang yang kalah selalu meniru orang yang menang, baik dalam lambangnya, atau dalam cara berpakaian, atau kebiasaannya dan sekalian gerak-gerik, dan adat-istiadatnya. Sebabnya ialah karena jiwa itu selalu percaya bahwa kesempurnaan hanya ada pada orang yang telah mengalahkannya itu. Lalu dia menjadi penurut, peniru. Baik oleh karena sudah sangat tertanam rasa pemujaan atau karena kesalahan berpikir, bahwa keputusan bukanlah karena kekalahan yang wajar, melainkan karena tekanan rasa rendah diri yang menang selalu benar!”
Barangsiapa yang mengangkat pemeluk agama lain itu jadi pemimpin tidaklah berarti bahwa mereka mengalih agama. Agama Islam kadang-kadang masih mereka kerjakan, tetapi hakikat Islam telah hilang dari jiwa mereka. Saking tertariknya dan tergadainya jiwa mereka kepada bangsa yang memimpinnya tidaklah mereka keberatan menjual agama dan bangsanya dengan harga murah.
Ketika Belanda sudah sangat kepayahan menghadapi perlawanan rakyat Aceh mempertahankan kemerdekaan mereka sehingga nyaris gagal maka yang menunjukkan cara bagaimana memusnahkan dan mematahkan perlawanan itu ialah seorang jaksa beragama Islam yang didatangkan dari luar Aceh. Dia memberikan advis supaya Belanda mendirikan tentara Marsose yang selain dari memakai bedil dan kelewang, hendaklah mereka memakai rencong juga, sebagaimana orang Aceh itu pula, buat memusnahkan pahlawan Muslimin Aceh yang masih bertahan secara gerilya. Kononnya beliau dalam kehidupan pribadi adalah seorang Islam yang taat shalat dan puasa. dan dia mendapat bintang Willemsorde dari Belanda karena jasanya menunjukkan rahasia-rahasia umatnya seagama itu.
Orang seperti ini banyak terdapat dalam sejarah. Negerinya hancur, agamanya terdesak dan buat itu dia diberi balas jasa, yaitu bintang! Maka tepatlah apa yang dikatakan oleh sahabat Rasulullah saw tadi, yaitu mereka telah menjadi Yahudi, dan disini telah menjadi Nasrani, padahal mereka tidak sadar.”
Di akhir ayat ke-51 tersebut Allah menyatakan, “Sesungguhnya Allah tidaklah memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.”
Buya Hamka pun mengingatkan:
“Maka orang yang telah mengambil Yahudi atau Nasrani menjadi pemimpinnya itu nyatalah sudah zalim. Sudah aniaya, sebagaimana kita maklum kata-kata zalim itu berasal dari zhulm, artinya gelap. mereka telah memilih jalan hidup yang gelap, sehingga terang dicabut Allah dari dalam jiwa mereka. mereka telah memilih musuh kepercayaan, meskipun bukan musuh pribadi. padahal di dalam surah al-Baqarah ayat 120 telah diperingatkan Allah bahwa Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha, selama-lamanya tidaklah mereka ridha, sebelum umat Islam menuruti jalan agama mereka. Mereka itu bisa senang pada lahir, kaya dalam benda, tetapi umat mereka jadi melarat karena kezaliman mereka. Lantaran itu selamanya tidak akan terjadi kedamaian.”
Hal yang hampir senada dijelaskan oleh An-Nawawi Al-Bantani (ulama besar terdahulu asal Banten) dalam Tafsir Al-Munir. Bila tidak percaya silahkan buka semua kitab tafsir karya para ulama Islam klasik tapi yang diterima mayoritas ahlussunnah wal jama’ah. Begitu gamblangnya firman Allah SWT yang melarang muslim memiliki pemimpin kenegaraan dari kalangan non-muslim. Sebelum mereka bersyahadat dan ikhlas menjadi muslim, pada hakikatnya mereka tergolong munafik, musyrik, bahkan kafir.
Sejak Allah menurunkan QS. Al-Maidah: 3 kepada Rasulullah saw, maka sejak itulah golongan Ahlul Kitab tidak diterima sebagai bagian dari orang beriman, apalagi pemimpin publik yang bersifat kenegaraan/kewilayahan. Dalam penggalan ayat tersebut Allah berfirman:
– الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (QS.Al-Maidah: 3)
Kesempurnaan Islam sudah mutlak dijamin oleh Allah SWT. Kesempurnaannya mencakup ketersediaan peraturan segala bidang kehidupan umat manusia, tanpa ada yang tercecer atau terlewat diatur. Semua sudah lengkap. Termasuk urusan kepemimpinan publik yang erat hubungannya dengan hajat hidup umat Islam.
Diskursus berujung polemik yang terjadi saat ini di antara sesama muslim terkait kepemimpinan non-muslim, apalagi setelah Ahok menistakan secara jelas Surat Al-Maidah: 51 pada tanggal 28 September 2016 lalu di Pulau Seribu, semestinya disikapi arif dan bijaksana oleh muslim pendukung Ahok. Bila masih mengaku muslim, bila kitab sucinya masih Al-Quran, mengapa tidak mengembalikan semua kepada dasar pedoman Islam, yakni Al-Quran dan As-Sunnah? Tidak ingatkah firman Allah SWT:
– يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً (59)
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.”  (QS. An-Nisaa: 59)
Perlu digarisbawahi bahwa yang dilarang Islam terkait non-muslim adalah masalah kepemimpinan publik (politik), bukan dalam semua masalah. Misalnya yang berkaitan dengan mu’amalah (sosial-ekonomi) Islam masih membolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Tapi, urusan Aqidah dan Ibadah tidak ada kompromi dari Islam.
Terdapat riwayat Abu Sa’id Al-Asyaj, dari ibn Fudhail, dari Asim, dari Ikrimah, dari Ibn Abbas, bahwa ia pernah ditanya mengenai sembelihan orang-orang Nasrani Arab. Maka ia menjawab, “Boleh dimakan.”  Allah SWT hanya berfirman: “Siapa saja di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (Al-Maidah: 51). Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Abuz Zanad. Meskipun hal ini perlu dikaji rinci pada bab lain.
Sebagai penutup, semoga Allah memberi hidayah pada semua umat manusia, terutama muslim yang masih mendukung pemimpin non-muslim. Silahkan direnungkan sabda Rasulullah saw berikut:
– قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا مُسَدَّد، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا نَافِعٌ، عَنْ عَبْدِ الله بن عمر، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ”.
Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Ubaidillah, telah menceritakan kepada kami Nafi’, dari Abdullah ibnu Umar, dari Rasulullah saw yang telah bersabda: “Tunduk dan patuh diperbolehkan bagi seorang muslim dalam semua hal yang disukainya dan yang dibencinya, selagi ia tidak diperintahkan untuk maksiat. Apabila diperintahkan untuk maksiat, maka tidak boleh tunduk dan tidak boleh patuh.”  (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam riwayat lain, Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadits Yahya Al-Qattan.
Dari Ubadah bin Shamit,”Kami bersumpah setia kepada Rasulullah saw untuk tunduk patuh dalam semua keadaan, baik dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan malas, dalam keadaan sulit ataupun dalam keadaan mudah, dengan mengesampingkan kepentingan pribadi, dan kami tidak akan merebut urusan dari yang berhak menerimanya.”Rasulullah saw bersabda:
– إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ فِيهِ مِنَ اللَّهِ بُرْهَان
“Terkecuali jika kalian melihat kekufuran secara terang-terangan di kalangan kalian, dan ada bukti dari Allah mengenainya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Categories