Ulama Yang Mengharapkan Kematian Anaknya

Ulama Yang Mengharapkan Kematian Anaknya

Mustanir.com – Di dalam Târîkhu Baghdâd (6/37), Khathib Al-Baghdadi menceritakan sebuah kisah perihal keadaan anak-anak kecil yang ketika di dunia meninggal dalam keadaan masih belia. Sebuah inspirasi agar kedua orangtua bisa bersabar ketika diuji dengan anaknya yang meninggal dunia.

Muhammad bin Khalaf dan Waki’ bercerita, “Ibrahim bin Al-Harbi memiliki seorang anak laki-laki yang berusia sebelas tahun yang sudah hafal Al-Qur’an dan diajari banyak tentang ilmu Fikih.”Tetapi tidak lama berselang, anak Ibrahim meninggal dunia.

Aku pun datang untuk mengucapkan belasungkawa kepada Ibrahim atas kematian putranya. Tetapi Ibrahim berkata kepadaku, “Kuntu asytahî mauta ibnî hâdzâ…., sungguh, aku mengharapkan kematian putraku ini.”

Aku pun mengatakan, “Wahai Abu Ishaq, Anda adalah seorang ilmuan. Pantaskah Anda mengatakan seperti ini tentang putra Anda ini padahal dia adalah anak yang cerdas, dan Anda sudah mengajarinya hadits dan fikih?”

Ibrahim menjawab, “Ya. Suatu ketika aku bermimpi dalam tidurku seolah-olah kiamat sudah tiba. Seolah-olah di tangan anak-anak kecil ada tempayang (buyung besar) yang berisi air. Mereka datang untuk memberikan minum kepada manusia. Hari itu adalah hari yang sangat terik panasnya, lalu aku katakan kepada salah satu dari mereka, “Isqinî min hâdzal mâ’…., berikanlah minum kepadaku dari air ini.”

Setelah itu ia memandangiku, dan mengatakan, “Laisa anta abî….., kamu bukan ayahku.”

Aku bertanya, “Siapa sebenarnya kalian?”

Ia menjawab, “Kami adalah anak-anak yang meninggal dunia ketika kami masih kecil. Di belakang kami ada ayah-ayah kami yang ingin kami sambut, lalu kami akan memberikan mereka minum dengan air ini.”

Ibrahim lalu melanjutkan, “Falihâdzâ tamannaitu mautahu…., karena inilah aku mengharap kematian putraku.”

SUMBER

Categories