Menjadikan Orang Kafir sebagai Wali, Pasti Menyesal

Menjadikan Orang Kafir sebagai Wali, Pasti Menyesal

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka (TQS al-Maidah [5]: 52).

Jika dalam ayat sebelumnya Allah Swt telah melarang keras orang-orang Mukmin menjadikan orang kafir sebagai wali, maka dalam ini Allah Swt menerangkan tentang sikap orang-orang yang terdapat penyakit di dalam hatinya. Mereka tetap bersikeras dan tidak beranjak pada posisinya, yakni membela dan mendukung orang-orang kafir.

Menjadi Ciri Kaum Munafik

Dalam ayat ini Allah Swt berfirman:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya

Menurut Imam al-Qurthubi, yang dimaksud dengan penyakit dalam hati adalah syakk wa nifâq (keraguan dan kemunafikan). Tak jauh berbeda, Ibnu Katsir juga menafsirkannya sebagai syakk wa rayb wa nifâq (keraguan, kebimbangan, dan kemunafikan).

Lebih tegas, Fakhruddin al-Razi menyebut bahwa mereka adalah “Orang-orang munafik, seperti Abdullah bin Ubay dan para sahabatnya.”

Kemudian disebutkan:

يُسَارِعُونَ فِيهِمْ

Bersegera mendekati mereka

Dhamir hum (kata ganti mereka) merujuk kepada kaum Yahudi dan Nasrani. Sebab, dalam ayat sebelumnya merekalah yang disebut sebagai kaum dilarang untuk dijadikan sebagai wali bagi kaum Mukmin. Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain (TQS al-Maidah [5]: 51).

Ketika kaum Munafik itu mendengar larangan mengangkat kaum Yahudi dan Nasrani sebagai wali, mereka justru bertindak sebaliknya. Mereka segera mendekati kaum Yahudi dan Nasrani dan mengangkatnya sebagai wali.

Sikap tersebut tentulah menguak jati diri mereka yang sebenarnya. Telah mafhum, bahwa orang munafik seperti Abdullah bin Unay bin Salul adalah orang kafir yang menyembunyikan kekufurannya dan menampakkan keimanan sehingga seolah-olah tampak seperti orang Mukmin. Tindakan mereka yang bersegera mengangkat kaum Yahudi dan Nasrani sebagai wali itu menunjukkan posisi dan keadaan mereka yang sesungguhnya. Bahwa mereka bukanlah orang yang beriman. Sebagaimana ditegaskan ayat sebelumnya bahwa: Ba’dhuhum awliyâ’ ba’dh (sebagaian mereka menjadi wali bagi sebagian lainnya).

Artinya, yang menjadi wali bagi orang kafir adalah sesama kafir pula. Oleh karena itu, dalam ayat itu juga ditegaskan:

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka” (TQS al-Maidah [5]: 51).

Amat menarik, dalam ayat ini tidak dinyatakan yusâriûna ilayhim (bersegera kepada mereka). Jika disebutkan demikian, maka maknanya adalah orang-orang munafik itu sebelumnya berada dalam posisi barisan kaum Mukmin, kemudian mereka beralih menjadi berada di dalam barisan kepada kaum kafir.

Tidak dingkapkan demikian, namun dinyatakan dengan ungkapan: yusâriûna fîhim (bersegera di dalam mereka).

Ungkapan ini menunjukkan bahwa sejak awal posisi kaum Munafik memang berada di pihak kaum kafir. Mereka belum beranjak dari posisinya. Ketika ada larangan, mereka bersegera meneguhkan sikapnya. Diterangkan al-Syaukani, penggunaan kata al-musyâra’ah fîhim (bersegera di dalam mereka) berguna untuk li al-mubâlagah (untuk melebihkan) dalam menjelaskan kecintaan mereka dala hal itu (menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali, red), sehingga seolah-olah mereka telah menetap di dalam mereka dan masuk dalam bagian mereka.”

Jika kerasnya larangan itu masih belum bisa mengubah sikap kaum Munafik, menjadi jelaslah siapa sesungguhnya mereka. Karakter mereka yang suka mengangkat kaum kafir sebagai wali itu juga ditegaskan Allah Swt dalam firman-Nya:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (139)

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin (TQS al-Nisa’[4]: 138-139).

Kaum Munafik itu menyodorkan alasan keberpihakannya terhadap kaum kafir. Alllah Swt berfirman:

يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ

Kami takut akan mendapat bencana

Kata dâirah bermakna sesuatu yang bergilir dari kejadian yang dibenci. Dalam konteks ayat ini, makna dâirah adalah kemenangan kaum kafir atas kaum Mukmin. Demikian penjelasan Imam al-Qurthubi, Ibnu Katsir, al-Syaukani, dan al-Samarqandi.
Alasan mereka itu juga diungkap dalam firman Allah Swt:

أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ

Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? (TQS al-Nisa’[4]: 139).

Artinya, alasan mereka mengangkat kaum kafir sebagai wali karena mereka beranggapan bahwa kaum kafirlah yang memiliki kekuatan. Sehingga, mereka layak mengangkat kaum kafir sebagai pelindung, pemimpin, penolong, teman dekat, dan semacamnya.

Semua alasan itu kian menguak kekufuran mereka. Mereka tidak yakin bahwa perintah dan larangan Allah Swt pasti benar dan adil. Mereka juga tidak yakin bahwa Dia tidak akan mezhalimi hamba-Nya dengan memberikan syariah yang mencelakakan manusia.

Mereka juga tidak yakin bahwa Allah Swt adalah pemilik kekuatan sebenarnya. Sementara kekuatan yang dimiliki selain-Nya hanyalah pemberian dari-Nya yang bisa dicabut setiap saat.

Akibat kekufurannya itu, mereka pun menganggap kekuatan kaum Yahudi dan Nasrani itu besar.

Mereka Pasti Menyesal

Dipastikan mereka akan menyesal. Dugaan mereka pasti meleset. Kekuatan kaum kafir yang mereka bayangkan besar dan dapat mengalahkan kaum Muslim tak akan terbukti. Sebaliknya, kaum kafir itulah yang akan menuai kehancuran. Sebab, kekuatan sesungguhnya adalah milik Allah Swt: Fa inna al-‘izzah lillâh jamî’â (maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah (TQS al-Nisa’[4]: 139). Sang Pemilik kekuatan Yang Maha Kokoh (Dzû al-Quwwah al-Matîn, QS al-Dzariyah 58) telah menjanjikan kemenangan buat hamba-Nya yang taat kepada-Nya.
Allah Swt berfirman:

فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ

Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya

Kata asâ (mudah-mudahan) bagi Allah Swt merupakan sesuatu yang pasti. Para mufassir memaknai kata al-fath sebagai kemenangan kaum Muslim atas kaum kafir. Kata tersebut biasanya digunakan untuk menyebut takluknya sebuah wilayah atau negeri yang sebelumnya dikuasai kaum kafir beserta hukum kufur oleh Daulah Islamiyyah, seperti halnya fath Makkah.

Sedangkan kata amr menurut al-Sudi berarti ditariknya jizyah atas kaum Yahudi dan Nasrani. Menurut al-Thabari, al-amr (perkara) yang dijanjikan Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw tersebut berupa jizyah atau lainnya. Namun yang penting perkara itu merupakan sesuatu yang memenangkan kaum Muslim atas kaum kafir. Buruk dan tidak menyenangkan bagi kaum kafir.

Janji Allah untuk kemenangan kaum Muslim disampaikan dalam banyak ayat. Dalam QS Muhammad saw [47]: 7 disebutkan bahwa Allah Swt akan menolong hamba-Nya yang menolong (agama)-Nya
Ketika janji Allah Swt itu tereralisasi, kaum munafik itu akan menyesal karena kesalahan pilihan mereka. Allah Swt berfirman:

فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka

Kata mâ asarrû fî anfusihim mengandung makna semua kejahatan yang mereka sembunyikan, baik kekufuran, kemunafikan, dan persekongkolan mereka dengan kaum kafir.

Di saat kaum Muslim mendapat kemenangan dari Allah Swt, mereka akan menyesal. Apabila penyesalan itu membuat mereka sadar dan segera bertaubat, masih terbuka pintu buat mereka. Tetapi jika penyesalan itu tidak berujung kepada taubat, dan mati dalam kekufuran, niscaya penyesalan mereka tak bertepi. Yakni ketika mereka mendapatkan azab yang amat pedih (QS al-Nisa’ [4]: 138. Bahkan tempat mereka di neraka berada paling bawah (fî dark al-asfal min al-nâr) (QS al-Nisa [4]: 145).

Semoga kita dijauhkan dari dari golongan munafik tersebut.

Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Categories