Menjawab Tantangan Mahfud MD tentang Khilafah

foto: tribun


Oleh: Ustadz Choirul Anam

MUSTANIR.COM, Meskipun pembahasan tentang Khilafah dilarang di Indonesia, namun saat ini diskusi tentang Khilafah justru sangat marak. Beberapa tokoh nasional, termasuk mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof Mahfudz, termasuk yang paling getol menggulirkan diskusi dan pembahasan tentang Khilafah.

Baru-baru ini, beliau mengajak diskusi dengan siapa saja tentang Khilafah. Dalam suatu seminar nasional ‘Tantangan NKRI di Tengah Penetrasi Ideologi Transnasional’ di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Kamis (7/12/2017), beliau mengatakan: “Saya nantang siapa saja, di mana saja, di dalam forum yang terbuka. Yang bisa menunjukkan kepada saya, tentang adanya Kholifah atau Khilafah tentang adanya Khilafah sebagai sistem pemerintahan, ya di dalam Al-quran dan al-hadis. Saya katakan kalau Khilafah banyak, tapi bukan dari Al-quran dan al-hadis. Itu adalah ciptaan para ulama berdasar kebutuhan, waktu, dan tempat masing-masing” (detik.com712/2017)

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI menganut sistem khilafah, tapi berbeda-beda. Hal tersebut bisa berbeda karena, dalam Al-quran dan hadis, sistemnya tidak diajarkan. “Kenapa beda? Ya karena memang Al-quran dan al-hadis tidak mengajarkan sistemnya. Prinsipnya nilainya mengajarkan bahwa khilafah harus berkeadilan. Tapi kalau sistemnya seperti apa, tidak ada,” ujar beliau.

Tulisan ini akan berusaha membahas tema seputar Khilafah, terutama tentang benarkah bahwa Khilafah hanyalah ciptaan ulama? Apakah 57 negara yang tergabung dalam OKI adalah Khilafah? Benarkah jika fakta penerapan sesuatu berbeda-beda berarti tidak ada ajarannya?

Jika dikatakan bahwa para ulama telah membahas tentang Khilafah, maka saya sangat setuju dengan pernyataan itu. Saya setuju bukan karena apa-apa, tetapi faktanya para ulama memang telah membahas tentang Khilafah. Secara obyektif, jika kita membaca kitab-kitab para ulama, maka kita akan dengan mudah mendapati pembahasan tentang Khilafah.

Imam Ar-Razi, misalnya, dalam kitab Mukhtar ash-Shihah halaman 186, menjelaskan:
الخلافة أو الإمامة العظمى، أو إمارة المؤمنين كلها يؤدي معنى واحداً، وتدل على وظيفة واحدة و هي السلطة العيا للمسلمين
“Khilafah, Imamah al-‘Uzhma, atau Imarah al-Mukminin semuanya memberikan makna yang satu (sama) dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim”.

Imam Ibnu Khaldun, dalam kitab Al Muqaddimah, halaman 190 berkata:
وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام أ . هـ
“Dan ketika telah menjadi jelas bagi kita penjelasan ini, bahwa imam itu adalah wakil pemilik syariah dalam menjaga agama serta politik duniawi di dalamnya disebut khilafah dan imamah. Sedangkan yang menempatinya adalah khalifah atau imam”.

Dua bukti di atas, lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa Khilafah memang telah menjadi pembahasan para ulama. Tentu ada ribuan ulama lain dalam ribuan kitab-kitab beliau yang membahas tentang Khilafah.

Hal ini tidak dibahas panjang lebar, karena saya dan Prof Mahfudz sepertinya “sudah sepakat”.

Selanjutnya, pembahasan akan diarahkan tentang tema yang lebih krusial, benarkah bahwa Khilafah itu hanya ciptaan para ulama’, yang tidak ada landasan dari al-qur’an atau al-hadits?

Pada titik ini, saya sangat berbeda dengan Prof Mahfudz. Sepengetahuan saya, ulama tidak akan sembrono berani menciptakan sesuatu yang tidak ada landasan dari al-qur’an dan al-hadits. Para ulama itu bukan pencipta ajaran Islam. Para ulama itu hanya menjelaskan Islam yang tentu saja sumbernya berasal dari al-qur’an, hadits, dan ijma’ para shahabat. Bisa saja para ulama berbeda dalam memahami detil ajaran Islam, tetapi sekali lagi ulama bukanlah pencipta ajaran Islam.

Jika kita merujuk pada hadits-hadits shahih, secara obyektif, maka kita akan menemukan pembahasan yang banyak tentang Khilafah.

Misalnya sabda Nabi bahwa pada suatu zaman tidak boleh ada dua orang Khilafah bersifat umum untuk seluruh kaum Muslim di dunia, bahkan Rasulullah memerintahkan akan membunuh yang teakhir dari keduanya. Rasulullah saw bersabda:

«إِذاَ بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا اْلأَخِرَ مِنْهُمَا»
“Jika dibaiat dua orang Khalifah, bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (Shahîh Muslim, no. 1853).

Hal yang sama dinyatakan oleh Rasulullah, tetapi dengan redaksi yang berbeda. Dalam hal ini memang Rasulullah tidak menggunakan redaksi “Khalifah”, tetapi “Imam”.

Beliau bersabda:
مَنْ بَايَعَ إَمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخِرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخِرَ
“Siapa saja yang membai’at seorang Imam, lalu ia memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya kepadanya, hendaklah ia menaati imam itu sekuat kemampuannya. Kemudian jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaan Imam itu maka penggallah leher orang lain itu.” (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan Ahmad).

Masih dalam substansi yang sama, tetapi dengan redaksi yang lain lagi Rasulullah saw bersabda:
«مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ»
“Siapa saja yang datang kepada kalian—sedangkan urusan kalian berada di tangan seseorang, kemudian dia hendak memecah-belah kesatuan jamaah kalian, maka bunuhlah.” (HR Muslim).

Dalam hadits ini, Rasulullah menggunakan istilah jama’ah kalian.

Dari contoh beberapa hadits shahih di atas, bahwa Rasulullah terkadang menggunakan kata “Khalifah”, “Imam”, “Jama’ah”, dan dalam hadits lain menggunakan istilah sulthan, maka para ulama memahami bahwa: Khalifah, Imam, dan Sulthan itu maksudnya sama (mutaradif). Sekali lagi, ini bukan ciptaan ulama. Tetapi ini adalah dari hadits Nabi yang kemudian dipahami dan ditulis di dalam kitab oleh para ulama.

Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah halaman 190:
وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام
“Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini (Khalifah) dan bahwa ia adalah pengganti dari Pemilik Syariah (Rasulullah saw.) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. (Kedudukan ini) dinamakan Khilafah dan Imamah dan orang yang melaksanakannya (dinamakan) Khalifah dan Imam”.

Imam Nawawi dalam Rawdhah ath-Thalibin juz X, halaman 49, menegaskan:
يجوز أن يقال للإمام :الخليفة، والإمام، وأمير المؤمنين
“Boleh saja Imam itu disebut dengan: Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin”.

Belum lagi jika merujuk pada ijma’ para shahabat. Saat Rasulullah wafat, para shahabat berijma’ untuk segera memilih dan mengangkat Khalifah sepeninggal beliau, bahkan mereka lebih mendahulukan memilih Abu Bakar sebagai Khalifah, dibanding mengurusi jenazah manusia paling mulia di dunia, Rasulullah saw. Inilah yang kemudian dipahami oleh para ulama bahwa mengangkat Khalifah merupakan kewajiban yang sangat urgen.

Sekali lagi, hal inilah yang kemudian dipahami dan dituliskan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya. Tetapi sekali lagi, ini bukan ciptaan para ulama’.

Syeikh Ibnu Hajar al-Haitamiy al-Makkiy dalam kitab Ash-Showa’iqul Mukhriqoh, jilid 1 hal 25 menyatakan:
اِعْلَمْ أَيْضًا أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ نَصْبَ الْإماَمِ بَعْدَ اِنْقِرَاضِ زَمَنِ النُّبُوَّةِ وَاجِبٌ بَلْ جَعَلُوْهُ أَهَمَّ الْوَاجِبَاتِ حَيْثُ اشْتَغَلُوْا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ وَاخْتِلَافِهِمْ فِي التَّعْيِيْنِ لَا يُقْدَحُ فِي الْإجْمَاعِ الْمَذْكُوْرِ
“Ketauhilah (juga) bahwa sesungguhnya para shahabat ra telah ijma’ (sepakat) bahwa sesungguhnya mengangkat Imam setelah lewatnya masa kenabian itu wajib, bahkan mareka menjadikan kwajiban tersebut sebagai kewajiban yang paling penting, dimana mereka lebih menyibukkan (diri mereka) dalam pengangkatan imam tersebut dibanding memakamkan Rasulullah saw, sedangkan perbedaan mereka (para sahabat) dalam penetapan siapa yang ditunjuk tidaklah merusak ijma’ yang disebutkan (di atas)”.

Hal yang sama diungkapkan oleh banyak sekali ulama, baik ulama salaf maupun kholaf. Misalnya Imam ‘Alauddin Al-Kasani Al-Hanafi, dalam kitab Bada’iush Shanai’ fii Tartibis Syarai’, juz 14, halaman 406. Beliau berkata:
“.. وَلِأَنَّ نَصْبَ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فَرْضٌ ، بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ ، وَلَا عِبْرَةَ – بِخِلَافِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ – ؛ لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ ، وَلِمِسَاسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ ؛ لِتَقَيُّدِ الْأَحْكَامِ ، وَإِنْصَافِ الْمَظْلُومِ مِنْ الظَّالِمِ ، وَقَطْعِ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي هِيَ مَادَّةُ الْفَسَادِ ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَصَالِحِ الَّتِي لَا تَقُومُ إلَّا بِإِمَامٍ ، …
“…dan karena sesungguhnya mengangkat imam agung itu adalah fardhu. Tidak ada perbedaan pendapat diantara ahlul haq mengenai masalah ini. Perbedaan sebagian kelompok Qadariyyah sama sekali tidak perlu diperhatikan, berdasarkan ijma’ shahabat ra atas perkara itu, serta kebutuhan terhadap Imam yang agung tersebut; serta demi keterikatan dengan hukum; dan untuk menyelamatkan orang yang didzalimi dari orang yang dzalim; memutuskan perselisihan yang menjadi sumber kerusakan, dan kemaslahatan-kemaslahatan lain yang tidak akan terwujud kecuali dengan adanya Imam…”

Hal ini sangat jelas, begitu jelasnya sehingga saat seseorang mempertanyakan legalitas Khilafah, sama artinya mempertanyakan legalitas Abu Bakara Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mempertanyakan legalitas para Khalifah Ar-Rasyidah, meskipun wajar secara akademis, tetapi sepertinya sangat tidak etis (tidak beradab) dilakukan oleh orang yang meyakini Islam ala ahlus sunnah wal jamaah (ASWAJA). Namun, jika itu dilakukan oleh kelompok Syi’ah, tentu kita sangat maklum, karena ajaran mereka memang seperti itu.

Sumber: facebook

Categories