
Demokrasi: Sistem yang Merampas Keadilan
MUSTANIR.net – Fakta tak terbantahkan tentang demokrasi saat ini adalah pragmatis, nir-ideologis, penuh tipu daya, dan hukum yang dipermainkan.
Demokrasi kini hanya diletakkan sekadar sebagai prosedur untuk meraih kekuasaan .Bagaimana prosedur itu sendiri ditempuh, jujur atau tidak, adil atau tidak, penuh etika atau tidak, tak dipedulikan, yang penting menang.
Kekuasaan diraih jadilah pragmatisme makin berkembang. Ideologi tidak lagi penting. Lihatlah, bagaimana bisa sebuah partai Islam bersekutu dengan partai sekuler yang selama ini justru dikenal menghambat segala sesuatu yang berbau Islam?
Pada saat yang sama, kecurangan makin dibiasakan. Hukum dipermainkan. Mestinya hukum mengendalikan pragmatisme, yang terjadi hukum dijadikan alat untuk melegalkan pragmatisme.
Melihat hasil pilpres lalu, orang kini makin percaya pada adagium; lebih baik menang meski curang, ketimbang terhormat tetapi kalah. Ini kecendrungan yang sangat berbahaya.
_Banyak Merugikan Umat_
Disadari atau tidak, sistem demokrasi sekuler telah banyak merugikan umat Islam. Kerugian terbesar umat Islam adalah ketika di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Faktanya umat Islam tidak dapat menerapkan syariat Islam secara kaffah. Sistem demokrasi telah menghalangi umat Islam menerapkan syariahnya sendiri.
Kerugian berikutnya, demokrasi adalah sistem yang memuluskan agenda oligarki dan asing melalui agen-agennya di partai politik dan pemerintahan. Kita tahu di antara agenda oligarki dan asing adalah penguasaan kekayaan sumber daya alam di negeri ini untuk kepentingan mereka. Ketika sumber daya alam negeri dikuasai mereka, pihak yang paling dirugikan adalah rakyat Indonesia. Tentu karena oligarki dan asing tidak pernah memedulikan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Kerugian selanjutnya adalah energi umat Islam yang seharusnya difokuskan perjuangan penegakan syariat Islam secara kaffah menjadi teralihkan oleh agenda politik sekuler. Umat seolah-olah merasa telah berjuang untuk Islam. Padahal mereka hanya dimanfaatkan untuk melanggengkan sistem politik demokrasi sekuler. Suara mereka hanya dijadikan alat legitimasi oleh kekuasaan. Bahkan lebih parah dari itu, mereka hanya dijadikan pendorong mobil mogok. Setelah mobilnya berjalan, rakyat dan umat ditinggalkan.
Karena itu sudah saatnya umat Islam sadar bahwa sistem politik demokrasi selain bertentangan dengan Islam sejatinya telah banyak merugikan kaum Muslim. Sudah saatnya energi umat ini difokuskan untuk perjuangan yang sebenarnya, yakni menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan dalam naungan khilafah yang tegak di atas manhaj kenabian.
Hanya syariah Islamlah yang dapat dipertanggung jawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak, karena dikeluarkan oleh penguasa dan pemilik alam semesta ini yaitu Allah subḥānahu wa taʿālā.
Wallahu a’lam bi ash-shawaab. []
Sumber: Abdurrahman Malik
