ovg.ox.ac.uk

Pemikiran Berbahaya dan Kejam dari Herd Immunity

MUSTANIR.net – Pemikiran salah: “Biarkan saja wabah SARS-CoV-2, sampai akhirnya terbentuk ‘herd immunity’ secara ‘alamiah’.” Pemikiran ini didasarkan atas asumsi rendahnya angka kematian, Case Fatality Rate (CFR) akibat SARS-CoV-2 yang ‘hanya’ sekitar 4-5%. Lebih rendah dibandingkan wabah MERS-CoV (35%) atau Ebola (50-60%).

Lalu, akhirnya punya pemikiran yang lebih berbahaya lagi: “Biarkan saja wabah SARS-CoV-2 menyebar, menginfeksi masyarakat luas, sampai terbentuk herd immunity secara alamiah.” Pemikiran ini berbahaya dan sangat kejam karena:

1. Konsep herd immunity ini adalah konsep yang ada dalam vaksinologi. Saya yakin netizen yang budiman tahu apa beda ‘vaksin’ dengan ‘infeksi alamiah’. Dalam vaksinasi, kita usahakan cakupan vaksinasi (vaccination coverage) mendekati 100%, meskipun sulit (bahkan mustahil) karena sebagian populasi mgkin memiliki kontraindikasi tindakan vaksinasi.

Kita bisa menilai, siapa yang bisa divaksin, siapa yang tidak. Misalnya para penderita dengan immunocopromised. Tapi, jika itu infeksi beneran, apakah kita bisa nyuruh si virus SARS-CoV-2, “Hey, virus, kamu infeksi orang-orang sehat saja ya. Yang orang-orang tua umur >60 tahun, dgn gangguan penyakit sebelumnya seperti hipertensi, jantung, dll, jangan kamu infeksi.” Emang si virus akan manut, gitu?

2. Jika kita biarkan menyebar, lalu berapa banyak penduduk yang harus kita ‘korbankan’? Asumsi: Jika untuk mencapai herd immunity melawan SARS-CoV-2 itu diperlukan 80% populasi harus imun, dengan angka kematian (CFR) 5%.

Penduduk Indonesia taruhlah 250 juta jiwa.

80% x 250 juta = 200 juta harus terinfeksi SARS-CoV-2.

5% x 200 juta = 10 juta harus meninggal dulu ‘demi mencapai’ herd immunity.

Bayangkan jika 10 juta itu sahabat-sahabat kita, teman-teman kita, anak-anak kita, keluarga kita, anak/istri kita. Masih berani ngomong biarkan saja wabah menyebar?

3. Angka 5% itu kondisi global, bisa jadi di tiap negara akan lebih tinggi. Apalagi jika dibiarkan.

Wabah dibiarkan -> penderita makin banyak -> rumah sakit tidak mampu menampung -> tenaga medis kelelahan -> yang mati makin banyak.

Itu yang terjadi di China sana saat awal-awal wabah.

4. Jika Indonesia tidak cepat melakukan langkah-langkah containment wabah, bisa jadi wabah di negara lain sudah selesai, di Indonesia masih berlangsung. Tahu kan akibatnya? Pukulan berat terhadap sektor ekonomi, wisata, dll. Orang Indonesia mungkin tidak bisa ke luar negeri, yang di luar negeri tidak berani pulang ke Indonesia.

5. Setiap munculnya virus baru, masih membutuhkan kajian dan penelitian tentang bagaimanakah sistem imunitas kita melawannya. Apakah benar orang yang terinfeksi, lalu sembuh, itu pasti kebal? Kalau kebal, kebalnya karena apa? Antibodi atau cell-mediated immunity? Ada tidak kemungkinan re-infeksi pada orang-orang yang sudah sembuh?

Setiap orang yang belajar viral immunology, dia pasti tau kalau tiap virus itu unik, beda dengan yang lain. Jadi, sebelum dia belajar dan mengkaji bagaimanakah sistem imunitas bekerja melawan SARS-CoV-2, sebaiknya tidak perlu spekulasi.

Jadi, masih berani membiarkan wabah meluas demi ‘herd immunity’? []

Sumber: dr. Muhammad Saifuddin Hakim, M.Sc, Ph.D; Dosen Mikrobiologi FK UGM, Doktor Virologi & Imunologi

Categories