Realita Umat Akhir Zaman

MUSTANIR.net – Hari ini, kita menyaksikan tragedi yang lebih dalam daripada sekadar kekalahan politik atau keterjajahan wilayah. Yang lebih mengerikan adalah ketika umat Islam masih memakai identitas Islam, tapi kehilangan ruh Islam.

Mereka salat tapi tak peduli pada kezaliman. Mereka puasa tapi terus memakan hasil riba. Mereka berhaji tapi menari-nari di konser musik yang menghina agama mereka.

Mereka Islam, tapi Islam tanpa keberpihakan pada kebenaran. Islam tanpa kesadaran sosial. Islam tanpa jihad. Islam yang hanya menempel di KTP dan biodata media sosial, tapi tidak menetes ke darah dan tulang.

Islam yang tidak membangkitkan manusia untuk melawan kezaliman, bukanlah Islam yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Dan hari ini, mayoritas umat justru tenggelam dalam kenikmatan palsu. Mereka membela artis, bukan ulama. Mereka menangis karena idolanya ditinggal hamil setelah zina, tapi tidak terguncang saat anak-anak Gaza dibantai. Mereka berbondong-bondong membeli tiket konser, tapi berpaling dari masjid, dari derita kaum tertindas, dari jihad membela hak.

Inilah hasil proyek panjang imperialisme dan Zionisme, mengganti semangat jihad dengan semangat joget. Mengganti surga dengan sorak sorai stadion olah raga. Membunuh ruh dengan musik, dan menggantinya dengan hasrat individualisme dan eksistensi digital.

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalangi nama Allah disebut di masjid-masjid-Nya dan berusaha merobohkannya?” (QS al-Baqarah: 114)

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka; mereka berperang di jalan Allah…” (QS at-Taubah: 111)

Tapi hari ini, umat justru menjual harga dirinya untuk dunia, untuk endorsement, untuk likes, untuk goyang murahan.

Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan, tapi keberpihakan mutlak pada keadilan dan perlawanan terhadap thaghut. Umat harus kembali memahami bahwa la ilaha illallah berarti menolak semua bentuk penjajahan: ekonomi, budaya, militer, dan ideologi.

Jihad bukan sekadar perang bersenjata. Ia mencakup perjuangan melawan riba, melawan sistem kapitalistik yang menindas, melawan budaya hedonisme yang melenakan. Umat harus menyiapkan generasi mujahid pemikir, bukan hanya mujahid senjata, tapi mujahid kesadaran.

Kita harus taubat dari budaya konsumsi visual yang membuat kita pasif. Tinggalkan konten yang menjual tubuh, yang merendahkan akal, yang melemahkan semangat. Bangun budaya baru, budaya membaca, merenung, dan bergerak.

Mulailah dari lingkaran kecil. Komunitas belajar. Ekonomi syariah. Gerakan sosial. Bangun masyarakat madani yang hidup dan bergerak di atas kesadaran Islam yang sejati.

Bukan tugas Islam untuk menjadikan manusia patuh. Tapi untuk membangkitkan mereka.

Maka siapa pun kalian yang masih merasa muslim, bangkitlah. Karena jika kita mati dalam keadaan memuja dunia, menjual diri di medsos, mengabaikan saudara yang tertindas, maka kita telah mendustakan Islam yang kita ucapkan setiap hari.

Dan itulah kekalahan paling menyakitkan, kekalahan yang tidak terasa, karena dibungkus dengan tawa. []

Sumber: Aba Shalih

About Author

Categories